Layanan kesehatan adalah layanan primer yang dibutuhkan oleh semua orang. Selain layanan dokter, layanan lain yang juga sangat vital adalah layanan apotek. Di apotek, pasien bisa mendapatkan obat atau alat kesehatan yang diperlukan untuk menunjang layanan praktik dokter.

Selama ini layanan apotek lebih banyak dilakukan secara konvensional. Pasien datang ke apotek untuk menebus resep atau membeli obat bebas. Jika pasien tidak mendapatkan obat yang dicari di satu apotek, pasien akan mencarinya di apotek lain satu demi satu sampai dapat. Mendatangi apotek satu demi satu ini secara ekonomis sangat tidak efisien karena membuang tenaga dan waktu. Apalagi jika jarak satu apotek dengan apotek lainnya sampai lintas kecamatan.

Memang saat ini ada beberapa layanan e-commerce apotek berbasis aplikasi, misalnya Aptek K-24, Halodoc, Alodokter, dan beberapa lagi. Selain memiliki apotek fisik, Apotek K-24 juga melayani pasien secara daring. Pasien bisa memesan obat secara daring, melakukan pembayaran di depan secara daring juga, kemudian obat dikirim ke alamat pemesan.

Namun, sampai sekarang layanan-layanan ini baru tersedia di kota-kota besar dengan jangkauan yang tidak begitu luas. Selain itu obat yang dibutuhkan pasien tidak selalu tersedia karena stok di apotek daring tersebut mungkin sedang kosong atau memang tidak ada. Jika obat tidak tersedia, pasien tetap harus mencari langsung ke apotek.

GoPay, sebelum menjadi GoTo, juga pernah menyediakan layanan GoMed, sejenis Gojek tapi khusus untuk layanan antar obat. Namun, layanan ini tidak begitu sukses dalam eksekusinya di pasar. Apalagi memang layanan obat tidak bisa disamakan dengan layanan makanan atau barang biasa. Obat adalah barang khusus, harus ditangani secara khusus, oleh tenaga kerja khusus. Tidak bisa disamakan dengan Gojek atau GoFood. Apalagi untuk obat-obat keras yang hanya bisa didapat dengan resep dokter.

Dari semua model layanan di atas, hingga saat ini belum ada layanan kirim obat yang bisa diandalkan dan bisa menjangkau semua wilayah. Dengan kata lain, saat ini masyarakat membutuhkan layanan e-commerce yang bisa menjadi mitra apotek dan mitra pasien sekaligus.

Deskripsi Usaha

Hingga sekarang layanan kirim obat belum begitu berkembang dengan baik karena ada beberapa masalah, yaitu masalah di sisi pasien, masalah di layananannya sendiri, dan masalah di peraturan kefarmasian.

Masalah di Sisi Pasien
Walaupun saat ini masyarakat sudah semakin akrab dengan dunia digital dan layanan daring, sebetulnya masih cukup banyak orang yang gaptek, terutama generasi tua. Padahal mereka ini banyak membutuhkan layanan apotek. Aplikasi-aplikasi berbasis Android atau IOS bagi kalangan muda memang mudah. Tapi bagi orang-orang tua yang gaptek, aplikasi ini dianggap rumit.

Dari semua jenis aplikasi ponsel, yang paling akrab dengan semua orang adalah WhatsApp. Sebagian besar orang, termasuk orang-orang tua gaptek pun pada umumnya sudah akrab dengan WhatsApp. Bahkan toko ritel Alfamart pun dalam layanan pesan kirim barang masih mengandalkan aplikasi WhatsApp walaupun sudah ada aplikasi khusus, yaitu Alfagift.

Masalah di Aplikasi Layanan
Salah satu masalah bawaan aplikasi adalah sistem pembayaran. Pada umumnya penyedia layanan hanya menerima pembayaran secara daring, misalnya transfer bank atau dompet digital semcam Ovo, Dana, Gopay, LinkAja, ShopeePay. Di sisi lain konsumen gaptek lebih menyukai sistem cash on delivery (COD). Namun dalam praktiknya sistem COD ini menyulitkan penyedia layanan. Misalnya jika konsumen tiba-tiba membatalkan begitu saja pesanannya maka kerugian harus ditanggung oleh penyedia layanan.

Selain itu, layanan berbasis aplikasi ini baru menjangkau kota-kota besar. Hanya sebagian kecil apotek yang bekerja sama dengan pengembang aplikasi ini karena prosedurnya tidak mudah. Apotek harus melakukan kerja administrasi tambahan di luar layanan konvensional.

Masalah di Peraturan Kefarmasian
Secara hukum sebetulnya apotek hanya boleh melakukan layanan daring jarak jauh jika layanan itu sudah mendapat izin dari dua kementerian, yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Ini memang menyebabkan layanan apotek daring tidak leluasa bergerak seperti layanan daring e-commerce barang lainnya.

  • Pemesanan bisa dilakukan melalui tiga channel, yaitu WhatsApp, website, dan aplikasi. Ini untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan yang gaptek.
  • Pembayaran bisa dilakukan lewat transfer bank, dompet digital, maupun sistem COD.
  • Layanan ini dikembangkan secara lokal di setiap kabupaten. Layanan MKA di satu kabupaten melayani pelanggan apotek di kabupaten tersebut. Jika obat yang dibutuhkan oleh pasien tidak ada di apotek terdekat, MKA akan mencarikannya ke apotek lain. Pasien cukup di rumah saja.
  • Layanan MKA diintegrasikan dengan fitur konsultasi apoteker. Fitur ini penting karena obat adalah barang khusus. Sebagian pasien mungkin belum bisa membedakan obat bebas dan obat resep. Dengan fitur ini pasien juga bisa berkonsultasi mengenai obat yang ia beli.

Solusi

Dengan melihat beberapa masalah di atas, kami merancang sebuah layanan bernama Mitra Kurir Apotek (MKA) yang memiliki fitur sebagai berikut:

Di kota kecil dan daerah pinggiran, MKA praktis tidak memiliki kompetitor karena sebagian besar apotek masih belum memiliki layanan seperti ini.

Di kota besar, kompetitor kami adalah perusahaan-perusahaan besar seperti Apotek K-24, Halodoc, dan Alodokter. Namun, MKA masih bisa mengambil peluang lewat berbagai kemudahan yang ditawarkan.

MKA akan secara aktif mendatangi satu per satu apotek untuk melakukan kerja sama. Apotek-apotek ini tidak dirugikan sama sekali karena mereka tidak perlu melakukan pekerjaan administrasi tambahan sebagaimana kalau mereka bekerja sama dengan Halodoc atau Alodokter. Semua administrasi dikerjakan oleh MKA. MKA membeli obat dari apotek sebagaimana pasien biasa sehingga sebetulnya apotek justru akan diuntungkan. MKA mendapat keuntungan dari tarif yang dibayar oleh pasien.

Kurir MKA akan mengantarkan obat langsung ke rumah pasien. Jika obat itu tidak tersedia di apotek terdekat, kurir MKA akan mencarikan obat di apotek lain. Dengan layanan seperti ini, pasien bisa menghemat biaya, waktu, dan tenaga.

Promosi bisa dilakukan lewat media sosial dan cara langsung. MKA akan membuat brosur yang dititipkan di apotek. Semua pasien yang datang ke apotek diberi brosur ini. Brosur juga bisa disebarkan langsung ke warga di pusat kerumunan atau bahkan bisa lansung diantar langsung ke rumah warga serta lewat media sosial.